(...artikel ini ditulis oleh teman gw, Rezi Arifin)
Saya kasihan memikirkan nasib SBY. Dari awal masa kepresidenannya sudah diuji dengan berbagai bencana alam dan korban jiwa, hingga detik ini. Dari mulai Tsunami, gempa, tanah longsor, luapan lumpur, banjir hingga kecelakaan pesawat, kapal dan kereta api. Sepertinya tiada hari tanpa bencana.
Saya masih teringat akan kata nenek saya sewaktu SBY masih sebagai calon presiden. Nenek saya berkata, "ada yang bilang, kalau SBY menjadi presiden, akan banyak korban jiwa...". Pada saat itu saya tidak begitu percaya akan ramalan tsb, akan tetapi, semakin hari saya semakin menjadi percaya. Akan tetapi, masa depan bangsa akan lebih buruk lagi bila Megawati terus menjabat menjadi presiden saat itu.
Seputar presiden, ada suatu hal yang saya dapatkan, masih berupa ramalan. Mungkin yang ini lebih seru. Ada ramalan orang dulu bahwa Indonesia akan dipimpin oleh 5 presiden yang bisa dikatakan signifikan (tidak seperti GusDur atau Megawati yang hanya numpang duduk... atau tidur siang). "No To No Go Ro" ("Noto Nogoro" atau "Tata Negara") adalah akhiran2 dari nama2 panjang presiden2 atau pemimpin2 Indonesia tsb. "No" yang pertama adalah SUKARNO. "To" adalah SOEHARTO. "No" adalah S.B.YUDHOYONO. Selanjutnya masih susah untuk ditebak. Yang pasti bukan Sutiyoso... Bisa saja dia menjadi presiden, akan tetapi bukan yang membawa kemajuan Indonesia. Kita tidak akan tahu kapan "Go" dan "Ro" ini akan muncul. Mungkin besok, mungkin masih puluhan tahun. Bisa saja kita masih belum sampai pada tahap "No" yang kedua karena bisa saja SBY bukanlah "No" yang kedua. Mungkin semua akan terlihat hasilnya pada saat akhir.
Pertanyaan yang lebih besar lagi adalah, apakah yang akan terjadi setelah kepresidenan "Ro"? Apakah Republik Indonesia akan hancur? Apakah RI kita akan dipimpin oleh orang2 tak berbobot? Apakah dunia akan berakhir? Kiamat?
Apapun masa depan bangsa nantinya, dibawah kepresidenan siapapun, baik maupun buruk, kita sebagai rakyat Indonesia tetap memiliki kekuatan untuk merubah nasib negara kita. Nasib kita tidak tergantung presiden, ataupun ramalan2, melainkan berdasarkan perilaku dan usaha kita sendiri. Perubahan2 kondisi politik dan ekonomi dari presiden Sukarno hingga presiden SBY memang sangat drastis. Akan tetapi, perubahan2 tersebut bukanlah kesalahan presiden2 tersebut semata, tetapi kita secara keseluruhan sebagai bangsa.
Bagaimanapun juga, orang Indonesia hanya memikirkan perut sendiri, "asal saya bisa makan hari ini." Ok, tidak ada masalah... Akan tetapi, cara kita mendapatkan makanan itu yang harus halal. Mungkin berkata lebih mudah dari pada melakukan, khususnya melihat bertambahnya angka kemiskinan di Indonesia. Di jaman Sukarno, beli beras harus antri. Di jaman Suharto, tidak harus ngantri dan harga stabil. Di jaman SBY, beras impor dan harga tinggi. Dimana letak kesalahannya? Dari jaman Sukarno ke Suharto; kemajuan. Dari Suharto ke SBY; kemunduran, khususnya atas jasa2 GusDur dan Megawati. Akan tetapi, apakah SBY telah berhasil membawa Indonesia ke arah kemajuan? Mungkin. Apakah rakyat Indonesia, di jaman SBY, sudah lebih maju? Jawabannya bisa anda lihat diluar rumah anda masing2.
Kemajuan ekonomi memegang salah satu peranan yang sangat penting dalam kemajuan bangsa. Bila kemajuan ekonomi bisa kita rasakan secara riil, kita tidak usah perduli siapa presidennya. Sewaktu Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang signifikan dibawah kepresidenan Bill Clinton, rakyat Amerika tidak ada yang merasa keberatan akan hubungan gelap Clinton dengan Monica Lewinsky. Clinton tidak jadi dipecat dari jabatannya. Maka dari itu, penghasilan kita sangat bisa menentukan sudut pandang kita.
Manusia hanya memiliki tiga kebutuhan pokok; sandang (baju), pangan (makan), papan(rumah). Bila setiap orang Indonesia telah memenuhi segala kebutuhan2 pokok tsb (secara baik tentunya), saya yakin bangsa kita akan menjadi lebih maju dan hidup lebih teratur dan disiplin. Bukan hanya secara finansial, tetapi khususnya secara mental. Bila semua kebutuhan pokok telah terpenuhi, pikiran kita akan bisa lebih memikirkan hal2 lain yang lebih positif. Betul kan? Akan tetapi, mungkin Indonesia akan membutuhkan waktu yang sangat lama, mungkin lebih lama dari yang diperkirakan, untuk sampai ke tingkat itu.
Bagaimanapun juga, pemerintah tetap berperan dalam melawan kemiskinan, sekalipun itu bukan tanggung jawab presiden seorang. Paling tidak pemerintah, bersama rakyat, harus mendukung perusahaan2 dan negara2 luar yang ingin berinvestasi di tanah air kita. Orang2 awam akan menganggap bahwa ini sebuah pertanda kita dijajah. Salah sekali. Karena dari investasi2 itu akan menimbulkan lapangan pekerjaan baru. Artinya, uang akan lebih banyak yang beredar di negara kita melalui tangan2 yang lebih banyak jumlahnya. Ini akan bisa mengangkat mereka2 dari kemiskinan. Bagaimanapun juga, globalisasi akan lebih menguntungkan dari pada tidak ada globalisasi sama sekali.
Apakah yang bisa dilakukan rakyat? Rakyat selalu bisa membantu keamanan dan kenyamanan lingkungan. Adanya protes2 di jalanan umum dan kerusakan2 property yang telah disebabkan oleh FPI dan grup2 extrimis lainnya akan membuat para investor takut, bahkan lari dari Indonesia. Agama tidak mengajarkan untuk merusak atau memeras. Ini adalah hasil dari kesalah-pengertian dalam menginterpretasikan ajaran agama. Saya yakin, mereka hanya menginginkan uang. Mereka masih dikategorikan sebagai rakyat miskin, maka dari itu mereka melakukan apapun sambil mengibarkan bendera apapun untuk mendapatkan uang. Tentunya kita tidak bisa terus2an berurusan dengan mereka dan disinilah waktu yang tepat untuk melibatkan kekuatan polisi atau TNI.
Akan tetapi, polisi dan TNI pun membutuhkan dukungan masa sewaktu pemilihan kepala2 polisi dan TNI. Terlihat jelas bahwa semua ini adalah suatu pertunjukan yang terus berputar berulang kali. Ini sangat tidak produktif. Selama mentalitas bangsa kita masih seperti ini, Indonesia tidak akan bisa maju. Sayangnya, ini sudah menjadi sistem dan budaya. Bila kita berputar balik ke masa lalu, sebelum keonaran ini bisa muncul sekalipun, dari mana kah ajaran2 buruk ini datang? Mungkin tontonan dari televisi atau film. Akan tetapi, dari manapun asal ajaran2 tsb, mengapa saking mudahnya orang Indonesia terpengaruh? Karena minimnya pendidikan.
Apakah segala masalah di negara kita bisa diselesaikan dengan pendidikan? Sangat bisa. Orang hidup miskin tidak selalu karena nasib, tetapi bisa karena berbagai hal. Kemiskinan bisa berawal dari orang tua yang miskin. Pasti ada sebabnya mengapa orang tua nya itu miskin. Pasti ada juga saudaranya yang tidak miskin. Akan tetapi, bila semua orang miskin diberikan pelayanan sekolah gratis hingga SMA, bahkan sarjana, apakah mereka akan terus miskin? Seharusnya tidak. Pendidikan yang diberikan harus bermutu dan tidak subyektif hanya dari sudut pandang guru. Guru2 pun harus mengajarkan para murid untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas tanpa rasa takut. Ini akan lebih berdampak positif daripada negatif. Dengan ini, para murid akan terbiasa untuk berpikir kedepan dan kreatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar